\

MAKNA IDUL ADHA

Idul Adha,  merupakan hari besar keimanan dan kemanusiaan. Hal ini terjadi karena ditandai dengan syiar penyembelihan hewan kurban untuk mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim setelah menerima wahyu Ilahi melalui mimpi.

“Wahyu yang diterima pun bukan wahyu biasa, karena Nabi Ibrahim diperintah langsung untuk menyembelih putranya, Ismail,” 

Nabi Ibrahim, begitu menyayangi putranya. Namun, Ia yakin, Allah SWT sedang menguji keimanannya. Bukan tawar-menawar yang Ia lakukan. Tanpa keraguan sedikit pun, Ia mantap untuk melaksanakan perintah Allah itu. Putranya pun menunjukkan hal yang sama, tanpa kebimbangan, Ismail mendorong ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah SWT.

“Akhirnya, Nabi Ibrahim dan Ismail lulus ujian Allah SWT. Ismail digantikan dengan domba. Satu pelajaran penting yang dapat dipetik, Nabi Ibrahim dan Ismail menunjukkan totalitas penuh keikhlasan, sehingga siap berkorban harta bahkan nyawa.

Bila menyimak makna yang terkandung, dapat dipetik empat makna yang dapat dijadikan pembelajaran dan teladan. Pertama,ketaatan atau kepatuhan. Saat itu, baik Nabi Ibrahim maupun Ismail patuh terhadap perintah Allah SWT, tidak sedetik pun alasan untuk menolak perintah-Nya.

“Dasar kepatuhan itu adalah tauhid, suatu prinsip yang mengedepankan Allah SWT sebagai referensi atau sumber kebijakan puncak dari seluruh tindakan,

Terkait dengan kepatuhan, sikap ini patut ada dalam diri setiap manusia. Dalam dimensi kehidupan, hal ini mengisyaratkan langsung bahwa untuk membangun sebuah sistem kepemimpinan yang kuat, maka domain ketaatan dan kepatuhan harus diaktifkan secara menyeluruh.

“Agar terjadi interaksi harmonis antara bawahan dengan atasan, ayah dengan anak, masyarakat dengan pemimpin. Artinya, sebuah kepatuhan dalam domain relasional merupakan syarat mutlak bagi tercapainya kepatuhan terhadap para pemimpin,” 

Makna kedua, adalah keteguhan pendirian atau istiqamah. Keteguhan ini ditunjukkan langsung oleh Ismail yang terus mendorong ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah, meskipun dalam sejarah, banyak setan yang silih berganti menggoda untuk membatalkan perintah Allah itu. Istiqamah, adalah kemampuan mempertahankan pendirian dalam situasi apapun. Istiqamah ini sangat penting, agar pendirian yang telah dipegang teguh tidak mudah digoyah oleh situasi apapun, karena semata-mata disandarkan kepada Allah SWT.

“Allah juga memerintahkan kita untuk selalu bertawakkal. Ini bermakna, jika memutuskan suatu urusan, harus diniatkan karena Allah SWT. Jangan sampai keluar dari ranah ketauhidan,

Kejujuran, merupakan makna ketiga. Nabi Ibrahim mencontohkan langsung terkait hal ini. Meskipun kasih sayangnya terhadap Ismail begitu besar, namun tidak sedikit pun Nabi Ibrahim menyembunyikan atau merekayasa perintah Allah tersebut. Dalam keadaan normal yang begitu sulit, Nabi Ibrahim menyampaikan langsung perintah Allah SWT itu kepada Ismail.

“Tentu sebuah pilihan yang sangat sulit. Namun, Nabi Ibrahim sangat yakin, bahwa puncak kebenaran adalah Allah SWT,

Jujur merupakan bagian dari sebuah pengorbanan, karena kejujuran mengandung kerelaan setiap diri untuk menerima hujatan, hinaan, dan perasaan kecewa manakala perkataan atau perbuatan jujur dapat menyinggung martabat atau kepentingan orang lain. Jujur, memang merupakan sebuah nilai  yang sangat sulit dan langka di dalam lingkungan kerja .

“Jujur banyak manfaatnya, salah satunya meningkatkan produktivitas kerja. Dengan jujur, tidak akan ada dana atau energi yang mubazir atau diselewengkan. Di dalam organisasi kerja, kejujuran akan menjadikan pemanfaatan energi menjadi hemat, terpelihara, bahkan meningkat.

Wujud makna keempat, adalah kemampuan berbagi. Penerima daging kurban, lanjut lebih afdal adalah orang yang tidak mampu. Kewajiban syariat ini adalah membagi daging kurban itu kepada mereka.

“Wujud etika yang dibentuk adalah membagi karunia yang dimiliki kepada yang membutuhkan, dengan ketentuan bahwa bagian yang diberikan kepada orang lebih besar daripada bagian yang diambil.

Oleh karena itu, Kita semua kembali mengingatkan agar segenap pribadi dapat meneladani karakteristik yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Empat karakter itu juga harus ada dalam diri setiap Manusia. Jika ini dapat dilakukan,maka akan mendatangkan manfaat besar bagi lingkungan. 

BERITA LAINNYA

07 Apr 2026 11:09

HUT KORPRI 50

07 Apr 2026 11:15

APEL SIAGA BENCANA TK.…

09 Apr 2026 13:12

KARAWACI JUMAT SODAQOH

09 Apr 2026 03:48

SANTUNAN KEPADA WARGA